Rabu, 04 April 2018

Zhangjiajie, Sumber Inspirasi Lukisan Pemandangan Klasik China

Pada liburan singkat kami di akhir Maret 2018 ini, kami memilih ke Zhangjiajie, kota yang memiliki pemandangan alam bebatuan karst cantik seperti pada lukisan-lukisan klasik China.

Hari ke 1 – Menginjakkan Kaki di 3 Negara dalam Sehari
Pagi hari setelah ngafe di  Starbuck bandara, jam 11 siang pesawat kami terbang menuju Singapore sebelum menuju Guangzhou. Kali ini kami gratis naik SQ bermodalkan point reward yang saya kumpulkan bertahun-tahun dari kartu kredit plus miles dari penerbangan dengan SQ sebelumnya.
Setibanya di Singapore, saya ke counter Changi Free Tour dan seperti pengalaman sebelumnya....sudah habis. Jadilah kami memilih naik MRT ke Sentosa. Kami makan siang disini dan berfoto di area sekitar Vivo City tapi ngak masuk ke area Sentosa. Yah saya kangen aja menghirup udara Singapore jadi dibela-belain naik MRT  pp perlu waktu 2 jam hanya untuk main di Sentosa selama 1 jam saja.
Sampai balik di changi, saya mengambil voucher transit sebesar Sin$ 20 per orang. Kami berdua jadi dapat Sin$ 40, dan lumayan banget kami gunakan untuk membeli 2 botol vitamin di Watson.
Jam 8 malam pesawat kami tepat waktu terbang ke Guangzhou dan tepat jam 00 pesawat menepakkan rodanya di landasan Baiyun Airport Guangzhou. Wow... beneran 3 negara dalam sehari! Rekor pengalaman pertama buat kami.
Setelah itu kami menuju hotel Pullman Baiyun Airport yang terletak diseberang bandara. Agak mabok juga kami mencari arah ke hotel ini dan tidak semua orang tahu persis arah jalannya.

Hari ke 2 – Mendengar Suara Monyet di Zhangjiajie National Park
Hari ini kami melanjutkan perjalanan dari Guangzhou ke Zhangjiajie. Pagi jam 9.30 kami bergegas dari hotel Pulman Baiyun Airport yang letaknya diseberang hotel dan terhubung dengan menyeberangi jalan di depan Gate 13 dari area keberangkatan.
Bandara Guangzhou Baiyun lumayan luas dan lumayan banyak toko. Ada satu mesin penjual fresh jus otomatis yang kreatif dekat gate 207, kreatif dan harga masih ok, RMB 30.
Setelah terbang 1.5 jam dengan China Southern Airline, kami mendarat di Zhangjiajie Airport.
Bandaranya rapih dan tampak siap menerima turis yang datang. Pemandangan poster bergambar batuan-batuan di Zhangjiajie National Park tertampang dimana-mana.
Guide kami, Lily menjemput kami di bandara dengan mobil Ford kecilnya yang nyaman.
Trip ke Zhangjiajie ini, saya yang umumnya suka jalan sendiri, memutuskan menggunakan private tour  karena saat mempelajari lokasi, agak mabok untuk nekat tanpa guide, apalagi trip saya ini “kejar tayang” (cuma cuti 1.5 hari dan total waktu trip dari Jakarta sd balik hanya empat seperempat hari). Zhangjiajie National Park (di distrik Wulingyuan yang dapat ditempuh selama 1.5 jam berkendara dari Zhangjiajie City) dan Tianmen Mountain (di kota Zhangjiajie City, dekat bandara) yang menjadi tujuan kami ini terlalu besar dan tidak banyak orang disana yang bisa berbahasa inggris. Jadi saya menggunakan private tour dari Western Hunan (Zhangjiajie) China International Travel Service www.china-zjj.cn
Sepanjang perjalanan dari airport ke Wulingyuan, kami melewati Zhangjiajie City yang tidak ramai tapi tampak modern. Jalan tol dari City ke Wulingyuan dimana Zhangjiajie National Park berada juga tampak rapih dan modern. Pupus sudah dugaan saya kalau disini masih desa. Disini sudah modern dan menjadi tempat wisata favoritnya orang-orang China dari berbagai kota. Wisatawan mancanegara juga ada tapi tidak terlalu banyak.
Kami sampai di hotel hampir jam 3 sore lalu kami lanjut melihat spot pertama di Zhangjiajie National Park yang letaknya tidak terlalu jauh yaitu Golden Whip Brook.
Disini banyak anak buahnya “Sun Go Kong” dan kami berhasil berfoto dengan salah satu dari mereka yang lagi asyik bersantai.
Kami lanjut ke area yang lebih dalam dan ketemu beberapa monyet yang suka bersuara uuuuu...uuuuuu
Baru kali ini loh saya mendengar suara monyet he...he...
Kami berjalan ke arah baliknya lalu berfoto dengan latar sungai kecil dangkal yang airnya bersih banget.
Pada jam 7.30 malam kami menonton Charming Show. Ramai banget pengunjungnya. Sepertinya ada kali 1000 orang dan mungkin semua turis hari itu ngumpul semua disana. Pertunjukannya bagus sekali dengan teknik panggung yang modern dan atraksi akrobatnya woww banget. Pertunjukan yang dikemas dengan menggambarkan budaya suku-suku di Hunan. Yang paling lucu gaya memikat pria suku Yao yang menggunakan atraksi tari, menyanyi dan memanjat yang dalam ayraksi ditampilkan atraksi akrobat berjalan dengan tangga bambu, lalu gadis suku Tujia dan Miao yang menangis selama sebulan sebelum menikah. Katanya sih sedih karena harus berpisah dengan keluarga.
Setelah 1.5 jam pertunjukan di dalam ruangan. Pertunjukan berlanjut di depan selama 30 menit. Hu hu agak ngeri juga jalan cepat-cepat untuk berebut duduk di tangga bareng turis lokal yang jago nyerobot ha..ha... pertujukannya kali ini menurut saya pakai kekuatan gaib, ada pria yang sanggup tiduran sambik menyanggah 3 balok plus 5 orang berdiri diatas badannya. Lalu ada yang tidak luka tangannya dikenai api plus mulutnya yang menyembur-nyemburkan api.
Setelah selesai kami balik ke hotel tempat kami menginap, Pullman Zhangjiajie yang letaknya disebelah theater ini.

Hari ke 3 – Hari Bersama Anak-anak Tangga di Zhangjiajie National Park
Hari ini kami berangkat jam 9 ke Zhangjiajie National Park dan balik hotel jam 3 sore.
Kami menggunakan tiket masuk yang sama dengan tiket yang kemarin. Tiket agak mahal RMB 245 tapi bisa untuk 4 hari dengan fasilitas bus gratis selama di dalam area Zhangjiajie National Park (tapi tidak termasuk tiket Bailong Elevator dan cabelcar).
Rute pertama adalah Bailong Elevator. Beruntung kami datang pagi sehingga ngak antri padahal hari minggu. Dari bawah tampak gile banget....lift ditepi tebing. Membuat lift yang diresmikan tahun 2002 ini pasti susah tapi saat naik elevator tertinggi di dinia ini saya ngak berasa takut dan rasanya cepat pula....dalam 1.5 menit lift menempuh 326m sampai di puncak. Naik lift ini kita perlu membeli tiket seharga RMB 72.
Kami lalu berjalan dan naik bis menuju area Yuanjiajie. Kami lalu berjalan dengan melewati beberapa anak tangga naik dan turun.
Disini ada beberapa spot Enchanting Terrace, lalu batu yang terkenal disebut Avatar karena menginspirasi Avatar Halleluyah, pulau terapung pada film Pandora karya James Cameron.
Spot berikutnya adalah Greatest Natural Bridge. Selama berjalan di area Yuanjiajie, pemandangan batuan banyak yang kuncupnya tampak agak membulat dan diatasnya tumbuh pohon.
Masih ditemani jalanan anak tangga dimana-mana kami menuju area Tianzi Mountain  yang batuannya ujungnya tampak agak lancip dengan aneka bentuk. Area pertama yang kami tuju adalah Helong Park dimana ada patung tokoh wilayah.
Lalu ke area dengan batuan yang dinamai Fairy Maiden. Bentuknya lancip-lancip kecil dan berbentuk unik seperti 2 batu yang berbentuk seperti orang berhadapan. Disini ada tempat penyewaan baju khas Tusia, suku di Zhanjiajie. Harga sewanya RMB 20 dan jika berfoto dengan fotografer disana harga fotonya tergantung beberapa ukuran. Dari beberapa foto yang dijepret kami membeli ukuran jumbo 4 foto seharga RMB 100.
Setelah puas foto, kami harus berjuang naik beberapa anak tangga lagi, naik bis lalu menaiki anak tangga lagi menuju stasiun atas Tianzi Cable Car dengan harga tiket RMB 72. Perjalanan 5 menit dengan cable car memberikan sensasi melihat ketinggian dengan pemandangan tebing yang cantik.
Setelah itu kami naik bis 30 menitan menuju lokasi dimana tadi kami masuk pertama kalinya.
Kami balim hotel. Nyantai di hotel, menyimpan tenaga buat acara besok yang perlu tenaga plus harus bermalam di pesawat.

Hari ke 4 – Berdiri Manis 20 menit plus 10 menit diatas Tangga Jalan di Tianmen Mountain 
Pagi hari kami kembali ke Zhangjiajie City. Kami akan mengunjungi Tianmen Mountain sebelum kami balik ke Guangzhou di malam harinya.
Rute wisata dimulai dengan naik cable car ke puncak gunung yang stasiun awalnya berada di tengah kota sehingga cable car melintasi jalan raya. Cable car ini adalah cable car terpanjang di dunia dengan panjang 7455m.
Saat membeli tiket dan juga melewati pintu masuk, kita harus menunjukkan paspor dan untuk penduduk China menunjukkan KTP.
Kami mencapai puncak gunung dengan cable car selama 30 menit, lumayan curam pada titik ujungnya tapi saat di dalam cable car kondisinya stabil jadi tidak mengerikan.
Sesampainya di puncak, kami melewati jalan di pinggir tebing gunung yang namanya Tianmenshan Guigu Plank Road yang terletak di sisi tebing pada pada ketinggian 1400m.
Lalu kami lanjut jalan lagi dengan sedikit naik atau turun anak tangga (tidak sebanyak di Zhangjiajie National Park) sebelum sampai di Glass Road. Untuk melewati jalanan kaca di tepi tebing pada ketinggian 1430m sepanjang 60 m ini kita harus membungkus sepatu kita dengan sarung kain yang sudah disediakan,
tujuannya supaya kacanya tidak kotor dan juga biar tidak licin. Saat kami melewati jalanan ini, ada satu engko-engko dan satu opa-opa yang ketakutan jalan diatas kaca, mereka berdua jalan dipinggir sambil memegang tebing. Di ujung jalan ada kamera dan kita bisa mencetaknya dengan biaya RMB 20 per foto.
Di lokasi ini kita bisa melihat liak liuknya jalanan yang cantik dengan 99 tikungannya.
Disini kami juga melihat tempat yang pada 25 Sep 2011 pernah dipakai oleh Jeb Corliss untuk terjun dengan wingsuit, parasut yang dilengkapi kamera, terbang melewati Tianmen Cave. Saya pernah melihat filmnya di National Geografic TV, sangat menegangkan! Selain atraksi ini, pernah juga ada 3 pesawat nekat terbang melalui gua ini.
Kami lanjut berjalan menurun diatas jalanan yang terbuat dari kayu dengan beberapa anak tangga yang lumayan nyaman untuk dilalui.
Dari lokasi ini kita bisa melihat dari atas lubang Tianmen Cave atau yang terkenal disebut pintu surga yang tingginya 131.5m dan lebar 57m.
Setelah itu kami naik tangga jalan turun selama 20 menit!
Tangga jalan lumayan curam yang terbagi dalam beberapa bagian tapi terasa nyaman.
Setelah itu tibalah kami di mulut gua Tianmen Cave dan berfoto serta beristirahat sejenak disana.

Setelah itu untuk turun dari mulut gua sd bagian bawah, kita ada 2 pilihan naik tangga jalan turun ke bawah dan bayar RMB 32 (tiket seharga RMB 238 untuk sehari hanya untuk cable car + tangga jalan sd mulut gua + bis area di dekat anak tangga paling bawah di depan mulut gua sampai ke stasiun awal di kota) atau jalan menuruni 999 anak tangga. Wah...pengen ngerasain sih tapi besok mau kerja. Ya udah naik tangga jalan saja he...he... Kami sempat berfoto sebelum naik tangga jalan yang baru beroperasi satu atau dua tahun ini selama 10 menit dengan pemandangan para “pejuang tangguh” yang bukan hanya turun tapi juga menaiki tangga....ada yang tampak sudah oma-oma pula.
Sesampainya di bawah tangga kami berfoto lagi di depan Tianmen Cave dengan 999 anak tangga
Perjalanan belum selesai. Kami akan naik bis arah turun melewati tikungan curam sebanyak 99 tikungan. Seramkah? Ternyata tidak tuh...mungkin karena supir nya memang yang sudah terlatih sehingga kami merasa nyaman saja.
Kami beruntung tidak hujan selama 2 hari ini....ngak kebayang jika hujan seperti minggu lalu yang katanya hujan terus. Kami juga beruntung melewati rute seperti ini sehingga kami tidak terlalu banyak harus melalui naik anak tangga tapi menurun, jika mengambil arah sebaliknya, rute akan terasa lebih berat.  Perjalanan selama di Tianmen ini menurut saya jauh lebih ringan daripada petualangan di Zhangjiajie National Park yang anak tangga naik maupun turunnya banyak.
Dari tempat ini kami mampir makan siang di kota dan juga mampir ke supermarket sebelum ke balik ke bandara Zhangjiajie. Dari ruang tunggu di dalam bandara kita bisa melihat pemandangan Tianmen Mountain dengan cave nya.
Selesai sudah acara wisata kali ini. Selama perjalanan saya melihat China sudah keren, fasilitasnya sudah sangat baik dan modern, tidak kalah dengan negara maju yang pernah saya kunjungi. Wc bau pesing dan jorok juga tidak saya temui selama trip kali ini. Kekurangannya hanya sebagian warganya yang masih hobby berebutan alias nyelak dan engko-engko yang hobby mengeluarkan reak dengan kencang juga masih terlihat. Sampah di jalanan juga relatif tidak ada, apalagi di Zhangjiajie National Park dan Tianmen Shan sangaat bersih. Tempat sampah di Zhangjiajie National Park lucu loh ada topi caping-nya, sampai-sampai ada turis yang hampir saja mau berfoto menggunakan topi tempat sampah ini ha..ha..
Pesawat kami jam 8 malam berangkat dari Zhangjiajie ke Guangzhou. Jam 9.20 tepat pesawat mendarat tapi pesawat perlu waktu agak lama untuk parkir dan akhirnya parkir tanpa belalai dan kami harus naik bus tapi bagusnya langsung diantar ke area bagasi. Dari disini kami langsung ke area keberangkatan. Check in sampai imigrasi cukup lama, dan jam 00 barulah kami berhasil duduk manis di depan gate. Bandara Guangzhou memang sibuk sehingga antri imigrasinya agak heboh belum lagi ada serombongan orang entah dari negara mana yang kacau banget, seenaknya pindah jalur ke depan jika ketemu temannya dan daari mimik mukanya ngak yakin kalau takut ketinggalan pesawat.
Pesawat SQ Guangzhou ke Singapore yang kami naiki lumayan kosong jadi kami bisa pindah bangku lain yang lebih nyaman. Orang yang duduk di depan saya mendorong mundur bangkunya pool banget bikin ngak nyaman. Inilah hal paling menyebalkan naik pesawat kalau dapat yang di depannya begini.
Pesawat kami mendarat jam 5 pagi dan kami lanjut naik SQ ke Jakarta. Kami tiba di Jakarta jam 8.30 pagi, bandara lengang. Kami juga tidak lama menunggu bagasi dan antrian imigrasinya.

Oleh Kumala Budiyanto

Kamis, 07 Desember 2017

The Grey Scandinavia in Winter

Dalam setiap rencana trip, saya sering mengalami hal-hal yang membuat ragu apakah di hari H bisa lancar, namun kali ini paling parah. Sebulan sebelum hari H saya cedera otot sampai sakit banget buat jalan dan malah cenderung ngak bisa jalan. Namun untunglah 5 hari setelah kejadian dokter menyuruh saya tes kecukupan vit D dan hasilnya kurang banget. Inilah sebabnya cedera otot saya susah sembuh. Kalsium yang diminum ngak bekerja baik. Dan syukurlah sejak minum vit D dosis khusus, cedera saya cepat membaik. Ditambah pula saya fisioterapi dan puji Tuhan seminggu sebelum hari H saya sudah merasa normal lagi walau fisioterapi tetap saya tuntaskan terus. Dan syukurlah dari kejadian ini, saya tahu saya kekurangan vit D sehingga perlu lebih banyak sinar matahari...kudu jemur saat pagi hari.
Kembali ke acara jalan-jalannya....trip ini bukan trip yang murah dibanding trip ke negara Eropa lainnya, tapi saya ingin menikmati negara-negara Skandinavia di saat winter dengan suasana langitnya yang kelabu sepanjang hari dan berharap melihat aurora lagi seperti dua tahun lalu saat saya trip ke Whitehorse, Kanada.
Trip kali ini saya lakukan independen dengan membeli paket free & easy dari authentic-scandinavia.com

Hari ke 1 – Terbang ke Stockholm
Kami berangkat di hari minggu malam naik SQ. Jadwal pesawat transit kami awalnya hanya berselang 1 jam dan karena teman saya datang awal banget ke bandara maka petugas menawarkan pindah pesawat yang lebih awal dan dia menyetujui lalu saya yang cepat-cepat berangkat ke bandara.
Saat transit di Singapore tidak banyak yang kami lakukan tapi untung kami pindah ke pesawat yang lebih awal karena waktu 1 jam transit cukup rawan jika ada delay.
Jam 11 malam tibalah saat boarding pesawat SQ kami rute Singapore-Moskow-Stockholm. Awalnya hanya tampak kami bertiga yang berwajah asia. Ngak lama muncul sekitar belasan orang Asia dan lucunya mereka memilih bangku dekat kami...jadilah semua wajah asia berkumpul di satu tempat bagaikan sekelompok kurkaci.
Transit di Moskow, kami hanya lihat-lihat toko di dalam area transit yang penjaga tokonya tampak ganteng dan cantik tapi berwajah kaku banget, terkesan galak.

Hari ke 2 – Keliling Kota Abu-abu Stockholm
Saat mendarat dan keluar ke area publik, kami mulai disuguhi pemandangan banyak wajah-wajah orang gantengan cantik serta ktampak ramah dan murah senyum. Orang-orang Swedia, buat kami wajahnya sangat enak dilihat, apalagi anak-anak kecilnya...cute banget, cakep seperti boneka.
Kami tiba di hotel pagi jam 10 an dan kebetulan kamar ada yang kosong jadi kami bisa check in.
Setelah rapih-rapih sebentar, kami makan pagi di restaurant kebab siap saji. Hhmm porsi besar dan harga juga lumayan mahal...ya, di Skandinavia harga makanan kira-kira 3-4x harga makanan di Indonesia...tapi kalau jalan-jalan yah sudah nikmati saja.
Lalu kami jalan ke arah halte bis hop hop dan menanti bis sambil dingin-dinginan selama 30 menit-an dan kami foto-foto di lokasi jalan di sekitar halte.
Hari itu kami sempat keliling kota satu putaran rute mobil hop hop tapi kami hanya sempat stop dan jalan keliling di area bagian depan istana yang berlokasi di Gamla Stan (kota tua). Kami tidak sempat masuk area istananya karena sedang renovasi. Namun keliling bagian luarnya sudah membuat kami lumayan puas karena pemandangan klasik area ini menarik.
Di area ini, toilet umumnya juga unik, bentuknya permanen tapi berada di luar. Sekali masuk 5 Krona. He..he...kami yamg punya koin cuma 6 Krona, terpaksa “curang”,  langsung masuk bertiga ke dalam toilet rame-rame dan untungnya dalamnya gede, masuk ber-10 juga muat ha...ha...
Niat kami setelah ke toilet, mau keliling naik boat tapi ngak keburu...mungkin kualat karena tadi masuk toilet bayar 1 untuk bertiga ha...ha... Lalu kami putuskan balik saja naik bis...ehh pas kami jalaan ke halte, bisnya lewat...jadi kami harus menunggu bis berikutnya. Saat menunggu di halte tampak suasana sudah mulai gelap, padahal baru mendekati jam 3. Namun langit yang kelabu di halte diwarnai oleh satu bocah cewe yang cakep banget yang duduk di sebelah kami menunggu bis...matanya biru, cakep banget. Mau minta foto bareng tapi ragu, takut papanya keberatan.
Dalam perjalanan bis baliknya. Bis sempat berhenti 30 menit di pemberhentian no 1 untuk recharge dan juga menunggu jam 4, jam rute terakhir bis hop hop. Kami dengan ditemani angin dan suhu 1 derajat celcius berfoto-foto dengan latar lokasi istana.
Hari ini pengalaman pertama kami, merasakan hidup di kota yang saat musim dingin, langit cerah hanya beberapa jam, hanya sekitar jam 8.30 pagi sampai 3 sore saat kami di sini di akhir November 2017 ini. Sungguh aneh rasanya....tapi menarik dicoba sebagai pengalaman hidup.
Sampai di halte Ice Bar, kami jalan ke hotel dengan suhu dingin yang mulai menyengat. Sesampainya di hotel kami makan malam disini dan meneguk sedikit wine untuk menghangatkan badan.

Hari ke 3 – Ke Kota Peri Bersalju, Kiruna
Kami berangkat ke Arlanda Airport dengan taxi dan pakai argo meter. Taxi yang kami naiki nama di label atasnya Taxi Stockholm tapi di kaca ada tulisan nama lain. Taxi terkutuk ini argonya sadis banget, kami kena 2000 krona (hampir Rp 3.5 juta), 4 kalinya biaya fixed rate dari bandara ke kota dari taxi yang kami naiki saat datang.
Info dari pihak travel, memang hanya gunakan Stockholm Taxi, Taxi Kurir dan Taxi 020, yang lainnya argo kurang bagus dan di kota ini tidak ada peraturan tentang rate jadi mereka bisa menentukan sendiri.
Taxi yang kami naiki memang mobilnya bagus banget sih tapi argonya terkutuk dan pakai label yang menyesatkan mata...ya sudahlah pengalaman.
Sekarang kami mulai dag dig dug dengan suhu di Kiruna yang infonya hari itu -9 derajat celcius, besok malamnya -16 derajat celcius....kuat ngak yah....
Saat mendarat, kami harus turun dengan tangga. Huhhh....angin menerpa wajah serasa dingin banget selama kami jalan ke area gedung kedatangan....gimana besok yah...
Kami dijemput bis Ice Hotel  (JukkasjÀrvi) dan sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan deretan cemara di kanan kiri jalan yang diselimuti salju tebal dan langit yang mendung serasa masuk ke negeri dongeng yang mistis....
Tidak lama setelah kami sampai, langit mulai gelap...hu..hu...suasana gelap hari kedua buat kami tapi kali ini di lokasi yang lain daripada yang lain...suasana di negeri dongeng ha...ha...
Malam ini kami makan di hotel dengan gaya “beruang” kutub...maksudnya mahal he..he... tapi mau tidak mau. Makanan high class disertai wine yang disajikan disini memberi pengalaman berbeda, makan di restaurant yang hangat dan cantik tapi berlokasi ditengah-tengah area terpencil yang penuh cemara dan salju.

Hari ke 4 – Menikmati Kota Peri Bersalju, Kiruna
Aktifitas pagi ini kami mulai dengan makan pagi di restaurant kami makan malam dan sudah termasuk dalam paket menginap kami. Kami keluar dari bungalow disambut oleh gelapnya langit dan suhu yang cukup dingin -14 derajat celcius.
Acara pertama, makan pagi di restaurant yang sama saat makan malam yang terketak 100m an dari bungalow kami. Jarak yang dekat tapi menjadi dramatis karena saat keluar kamar, langit masih gelap dan kami jalan diantara pepohonan cemara yang diselimuti salju tebal.
Setelah makan, kami ikut kelas memahat es yang dilakukan di ruangan IceHotel 365. Awalnya saya pikir akan cukup hangat karena diluar suhi -16C, tapi nyatanya di dalam juga dingin karena acaranya di ruangan es yang ada kamar hotel dengan ruangan es. Lantai bersaljunya yang membuat kami ngak kuat mengikuti kelas sampai akhir.
Memahat es buat kami ngak mudah he...he... kami masing-masing diberikan satu balok es untuk dipahat dan saya cuma punya ide membuat gedung perkantoran, jadi hanya memahat membuat kotak-kotak seperti kaca dan dibuat selang seling ada yang timbul.
Selanjutnya kami akan lanjut tour melihat kamar hotel yang ruangannya dibentuk dari es, termasuk ranjangnya. Sebelum ikut acara ini kami sempat shopping lagi di toko nya Ice Hotel.
Tour keliling ruangan kamar es Ice Hotel dapat dilakukan baik oleh tamu hotel maupun hanya pengunjung. Bagi tamu hotel tour gratis. Tour dilakukan setiap jam 12 dan 2 siang dan kami memilih yang jam 12 siang.
Sebelum diajak keliling kamar es, kami diterangkan sedikit tentang Ice Hotel yang ternyata ada sejak tahun 1990, bahan es nya diambil dari Tome River di dekat lokasi dan langsung dipotong kotak persegi panjang besar lalu disimpan dalam ruangan. Bahan balok es yang digunakan untuk membangun ruangan es saat ini adalah balok yang diambil pada bulan Maret 2017 yang lalu. Saat kami datang di akhir bulan Nov ini belum semua ruangan Ice Hotel jadi dan kami diajak liat kamar es nya yang di Ice Hotel 365 yang dapat dinikmati sepanjang tahun.
Ide membuat kamar es ini muncul pada tahun 1989 saat tim artis yang melakukan ice festival tidak ada kamar dan mereka tidur di area lokasi pameran beralaskan kulit rusa dan sleeping bag. Mereka merasa nyaman dan mulainya sejak saat itu disino menyediakan akomodasi kamar es yang dibangun setahun sekali selama Des-Mar dan tiap tahun berganti karena bangunan akan mencair saat musim berganti...jadi kata nereka mereka membangun hotel hanya meminjam air yang membeku dari sungai dan mengembalikannya saat mencair.
Saat melihat kamar-kamarnya, saya ngak kebayang kalau ambil paket 1 malam di kamar ini dan 1 kamar hangat....rasanya saya tidak akan tidur dan akan kabur dari kamar karena suhu di daerah ini saat itu -18C saat malamnya. Namun melihat kamar-kamar es yang cantik memberi pengalaman sendiri, belum lagi lokasi hotel dan bahkan kota ini yang dikelilingi oleh pohon-pohon cemara yang besar serasa christmas sepanjang tahun. Kamar es favorit saya adalah kamar yang dibagian depannya ada rak buku dan bangku tempat membaca, bagaikan library es.
Setelah acara ini, kami makan. Tapi kali ini makan sandwich saja....ngirit...karena makan malam kemarin sudah high class buanget.
Hari itu langit cerah seperti kemarinnya, hanya terang sampai jam 3 sore. Kamipun masuk kamar setelah sebelumnya puas berfoto-foto dengan pemandangan di sekitar hotel yang cantik dan dramatis.
Kami beristirahat sebentar dan acara yang dinantikan segera tiba. Jam 7 malam kami ikut tour melihat aurora sambil menikmati hidangan ala orang artic. Saat tiba kami diberikan kayu kecil seperti obor dan kami pakai untuk jalan ke arah dalam menuju kemah. Hhmm saya agak stress, gila dah kalau 3 jam disini...dingin banget, api unggun ngak sanggup membuat kami hangat. Tapi untungnya hanya 15 menitan disini, guide bercerita tentang aurora dan kami diberikan minuman hangat khas natal, sejenis wine kadar rendah yang dicampur rempah-rempah dan disajikan dalam keadaan panas. Lalu kami diajak ke rumah panggung kayu dan kami akan makan malam disini. Lega rasanya...ruangan disini ada alat pemanas yang memadai.  Makanan disiapkan oleh guide yang bernama Steven.
Dia sibuk banget masak dengan gaya masak pakai senter di kepalanya karena ruangan kayu sengaja mereka buat redup sehingga terasa alami tapi kami harus makan gelap-gelapan dan untungnya ngak kedinginan. Sebelum hidangan penutup pada jam 22 30 yang katanya jam sering muncul aurora disini, sang aurora cantik muncul. Thanks God, saya untuk kedua kalinya bisa melihat aurora!
Kali ini aurora tampak warna hijau kombinasi pink...cantik banget.
Namun sayang karena kami ikutnya bukan paket photography maka pihak tour tidak menyediakan kamera, jadi saya ngak bisa berfoto dengan berlatar aurora. Pertimbangannya untuk yang photography sepertinya ruangannya hanya tenda jadi saya tidak memilih ini karena takut kedinginan (harusnya nanya yah...). Tapi untungnya rekan satu group di tour ini, Tony & Crystal berhasil mengabadikan aurora yang cantik dan dengan baik hati men-share nya kepada kami semua peserta lain yang saat itu total berjumlah 7 orang.
Kami sampai hotel sekitar jam 12 malam dan terasa semakin dingin serta dari langit terasa salju turun seperti debu tipis turun.

Hari ke 5 – Perjalanan dari Kiruna ke Copenhagen
Pagi ini hu..hu..makin dingin dan serasa saat jalan salju bagaikan embun turun. Suhu pagi itu -21 derajat Celcius....wow banget....rekor buat saya baru kali ini merasakan suhu sedingin ini.
Setelah makan pagi kami diantar ke airport. Pesawat kami sampai terlambat karena salju...sepertinya perlu waktu membersihkan salju di landasan.
Pesawat lanjutan kami oleh SAS airline dipindahkan ke flight berikutnya.
Kami sampai si Copenhagen jam 3 sorean. Tidak akan banyak hal yang dilakukan selain makan.
Di kota ini tidak seperti di Stockholm apalagi Kiruna. Langit yang terang walau mendung, masih tampak sampai jam 5 sore, tidak seperti di Stockholm yang jam setengah empat sudah gelap gulita apalagi di Kiruna yang lebih awal lagi gelapnya.
Sepanjang perjalanan dari airport ke hotel kami disuguhi pemandangan gedung perkantoran berbentuk kotak-kotak semua. Ada satu gedung yang namanya buat kami lucu, “Nykredit”....nyonya kredit?....bukanlah, ny artinya new (baru).

Hari ke 6 – Keliling Copenhagen, kotanya Little Mermaid dan Cruise ke Oslo
Hari ini kami menggunakan City Sightseeing Bus ubtuk keliling kota. Kami memilih berhenti di 2 tempat. Rosenborg Palace tujuan pertama kami dan disini kami melihat atraksi penggantian penjaga istana yang tampak cukup sederhana yang dilakukan tepat jam 12 siang. Seperti halnya acara penggantian penjaga di London, tentaranya menggunakan topi yang tinggi banget. Lalu tentara kerajaan Denmark ini menggunakan tas hitam yang dari jauh mirip kotak radio.
Dari tempat ini kami lanjut perjalanan ke ikon khasnya kota ini, patung Little Mermaid yang terketak di pinggjr dermaga. Patung yang merupakan hadiah dari anak pendiri bir Carsberg ini dibuat untuk mengenang karya Hans Cristian Andersen, putra Denmark yang karya cerita anak tentang putri duyung (mermaid) begitu terkenal.
Setelah itu kami bersiap ke arah dermaga untuk naik DFDS Cruise ke Oslo. Saat naik taxi dari hotel, ada miskomunikasi antara pihak hotel yang memesan dan taxi. Seperti yang terinput oleh hotel tujuannya ke bandara jadilah taxi kami melaju ke arah sana. Dan di tengah perjalanan saya baru sadar salah jalan dan untunglah masih cukup waktu jadi kami keburu naik cruise tepat waktu.
Selama cruise yang kami lakukan makan malam yang sudah kami pesan sebelumnya lalu melihat tax free shop dan saya membeli jaket merah yang murah untuk kualitas dan merk nya dan langsung saya pakai he...he...
Kapal berjalan cukup lembut. Goncangan ada terasa tapi sedikit banget, mungkin karena kami di deck paling atas dan kamarnya paling depan dengan akses ke private deck sehingga kami mudah berfoto-foto di kapal.

Hari 7 – Oslo, Kota Tempat Penghargaan Nobel Perdamaiam
Pagi itu dari kapal tampak pemandangan langit yang pink keunguan cantik sekali tapi angin dan suhu dingon membuat saya ngak sanggup lama-lama main di luar kamar.
Kapal kami merapat jam 9.45 pagi. Dari jauh tampak pemandangan opera house yang unik. Keluar dari kapal kami langsung ikut tour city sight seeing-nya HMK yang sudah kami pesan sebelumnya. Tas koper kami ditaruh di bagian belakang bis.
Selama perjalanan, guide menerangkan setiap tempat yang dilewati. Di area kota kami melihat banyak gedung tua yang antik. Yang menarik perhatian saya adalah gedung kuning yang tidak terlalu besar....ya ini adalah Nobel House gedung kantor dimana penghargaan Nobel diputuskan.
Tanggal 10 Des nanti ada acara penghargaan Nobel yang dimenangkan oleh Ikham dan penghargaan akan dilakukan di City Hall.
Kota Oslo sejak tahun 2000 terkenal sebagai Tigerstaten (Tiger City) karena pada tahun perayaan 1000 tahun peringatan berdirinya kota ini dibuat patung tiger oleh Elenaa Engelsen dan dipajang di depan Oslo Central Station.
Guide juga bercerita dulu Norway negara miskin sampai ditemukannya tambang minyak. Norway pernah dikuasai negara Denmark. Namun pada masa perang dialihkan ke Swedia sebagai hadiah perang. Dan setelah itu negara ini independen dan saat ini negara ini masih memiliki kerajaan tapi secara pengaturan negara diatur oleh parlemen jadi kerajaan hanya lebih ke lambang saja.
Setelah itu perjalanan ke arah timur menuju Holmenkollen, tempat ski yang unik. Kami melewati area perbukitan dengan rumah khas Norway dan pohon cemaranya yang diselimuti salju tipis.
Olahraga ski adalah olahraganya orang Norway. Kata guide kami, olahraga ski yang dulunya olahraga mahal tapi sekarang tidak lagi karena alatnya bisa disewa.
Holmenkollen memiliki fasilitas ski arena terbaik di dunia dengan ketinggian area jumping setinggi 60m.
Biaya hidup di Norway memang mahal dan pajak tinggi. Pajak penghasilan 40% dan VAT makanan 25%. Penduduknya yang sedikit yang hanya 5 jutaan yang mungkin membuat biaya hidup tinggi....tapi nyaman cenderung sepi hidup di negara ini. Oslo yang ibukotanya saja tampak sepi.
Selanjutnya kami diajak ke Vigeland Sculpture Park, taman yang berisi ratusan patung yang mayoritas terbuat dari batu granit yang menggambarkan kehidupan manusia dari lahir sampai meninggal, termasuk ada patung bergaya porno he...he....
Taman yang luas ini karya Gustav Vegeland (1869-1943) dan pembangunannya dibiayai oleh pemerintah...jadi seniman ini berkarya dibiayai pemerintah. Lama pembangunan semua patung ini dilakukan selama 20 tahun. Bagian utamanya adalah Monolith, patung setinggi 14m yang terdiri dari tumpukan patung orang dan lama loh dibangunnya, 14 tahun.
Ada 1 patung favorit di tempat ini, anak kecil yang lagi marah dan patungnya ada di tengah jembatan. Tangan patung Angry Boy ini dicat kuning karena begitu banyak turis yang berfoto dengan memegang tangannya.
Setelah itu, kami diajak mengunjungi 2 museum. Pertama ke Farm Museum yang disebut sebagai Musium Terbaik di Norway. Yang kami lihat di musium adalah replika kapal yang digunakan menyusuri pasific ocean oleh Farm.
Lanjut ke Viking Musium. Disini ada 3 jenis kapal yang di tampilkan. Kapal untuk wanita hebat yang meninggal yang ada ukiran di ujungnya. Lalu kapak untuk pria hebat yang meninggal. Dan terakhir kapal yang dipakai sehari-hari. Disini ada tv besar berbentuk oval dan menampilkan cerita tentang pelayaran orang viking dan beruntung ada tampilan aurora dan saya sempat berfoto di depannya.

Hari ke 7 – Setengah Hari Keliling Oslo dan Balik Terbang ke Stockholm
Kekuatiran kami kemarin kalau hari ini ngak bisa jalan-jalan karena jalanan yang licin tidak terjadi. Pagi ini matahari bersinar terang sehingga hanya sedikit saja jalanan yang menyisakan salju tipis yang sudah menjadi es batu.
Kami berpuas-puas ria berfoto di area di depan Oslo Opera House. Kapal cruise yang kami naiki kemarin juga tampak dari sini.
Opera buka jam 12 siang, jadilah kami bermain-main ke Central Station dan berfoto dengan patung Tiger yang ada di tempat ini sejak tahun 2000, tahun perayaan 1000 tahun ulang tahun Norway.
Bagian dalam stasiun juga cukup santik dihiasi ornament natal, Saat menjelang jam 12 siang, kami kembali ke Opera House lalu kami membeli karcis Tour Keliling Opera House yang dimulai jam 1 siang.
Saat memilih lokasi opera ini, awalnya mereka ragu-ragu karena letaknya yang tidak di pusat kota dan awalnya sempat tampak seperti gedung parkir karena di depannya saat itu ada motorway.
Saat ini opera house ini tampak cantik dengan gaya arsitektur terinspirasi area ski ini berdiri di area seluas 38,500m2.
Kami diajak keliling ruang opera, dimulai dari area tempat menonton opera yang memiliki kapasitas hampir 2000 bangku.
Lalu kami diajak ke bagian fasilitas lainnya yang ternyata banyak sekali, total ruangan ada 1100 ruangan termasuk ruang tidur para artis pengisi acara.
Kami juga diajak ke bagian produksi landscape panggung sampai kostum. Dan katanya kadang sebagian kostum mereka menyewa. Persiapan mereka untuk show cukup lama...3 bulan!
Kemudian kami diajak ke belakang panggung dan tampak alat-alat panggung yang sedang disiapkan untuk show jam 6 sore ini.
Setelah selesai kami balik ke hotel dan berangkat ke airport.
Akhirnya kali ini kami mencoba airport train nya di negara skandinavia ini. Flytoget, express train dari Central Station ke airpot nyaman dan cepat. Beruntung lantai 2 hotel Thorn Opera tempat kami menginap dekat terkoneksi dengan central station, sehingga kami ngak kesulitan. Sebelum naik kereta kita juga bisa check in dan print label tax untuk koper yang akan dimasukkan ke bagasi.
Perjalanan kereta melaju cepat selama hampir 20 menit....ngak kebayang, kalau naik taxi berapa harganya.
Sesampainya di Oslo Airport kami makan dulu. Hanya dalam waktu 1 jam an kami tiba kembali di Stockholm dan kami menginap di hotel Clarion yang berlokasi di Arlanda Airport area skycity.

Hari 8 – Perjalanan balik ke Jakarta via Moskow dan Singapore
Hari ini kami makan paginya pagi banget jam 5.30. Antrian imigrasi panjang banget dan volume penumpang di bandara Stockholm Arlanda lumayan padat dan bandaranya besar...ngak kebayang kalo kaki masih sakit gimana rasanya...
Pesawat kami delay 1 jam dan jam 10 pagi baru terbang tampaknya karena pesawat telat berangkat dari Moskow karena salju turun.
Kami terbang jam 10 pagi dan saat transit di Moskow tampak salju turun. Sebagai kenang-kenangan pernah menginjakkan kaki di Rusia, saya membeli syal dengan motif khas negara ini dan langsung saya pakai.
Perjalanan lanjut ke Singapore selama belasan jam dan di pesawat disuguhi ice cream, yogurt dan potato chip buatan Rusia. Rasanya beda banget tapi enak....saya suka.
Kami tiba di Singapore telat 1 jam dari yang dijadwalkan. Kami rencananya mau ikut free city tour yang jam 9 tapi sudah penuh. Akhirnya kami hanya keliling airport.

Trip kali ini buat saya sesuatu banget karena merasakan hidup di negara yang terangnya cuma beberapa jam saat winter...sendu banget rasanya. Kemudian merasakan langit yang sendu plus salju yang tebal dan suhu yang dingin buanget adalah pengalaman merasakan karya Tuhan yang sangat berbeda. Dan ternyata disana manusia bisa hidup nyaman juga loh...tentunya dengan sarana yang dibuat manusia menggunakan akal budi yang Tuhan berikan.


Oleh Kumala Sukasari Budiyanto